Asrama,  Kampus,  Kegiatan

Kedai Kopi Sebagai Service Kepada Pengguna Kampus Geologi Luk Ulo

Telah dibuka di Kampus Geologi Luk Ulo Coffe Shop yang bernama “KEDAI KOPI 88”. Diberi nama “Kedai Kopi 88” karena sebagian peralatan kedai kopi merupakan sumbangan dari Alumni Geologi ITB Angkatan 88.

Kedai kopi ini diharapkan menjadi tempat berkumpul dan bersantai bagi penghuni dan pengguna Kampus ditengah kesibukan ke lapangan maupun mengerjakan tugas dan perkuliahan di Kampus Geolog Luk Ulo.

Keunggulan cafetaria ini adalah kami menyajikan khusus Kopi yang berasal dari Kabupaten Kebumen. Di Kabupaten Kebumen terdapat Kopi Robusta, Liberika dan Ekselsa. Karena di Kabupaten Kebumen tidak ada topografi yang melebihi 1000meter DPL, maka di Kabupaten Kebumen tidak terdapat Kopi Arabika. Namun demikian, Kopi Liberika dan Ekselsa yang merupakan produk biji kopi unggulan di Kebumen juga memberikan karakter rasa yang unik dan sangat berbeda dengan rasa jenis lainnya.

Kedai kopi ini berada di lantai paling atas Gedung Zona A yang merupaakan area bebas untuk kunjungan wisatawan. Area Zona A ini memang diperuntukan siapa pun untuk berkunjung ke Museum, Pusat Informasi maupun perpustakaan Kampus dan tentunya menikmati kopi khas speciality single origin Kebumen yang langka.

Dengan keunggulan lokasi yang dilingkungi pemadangan indah sekitar karangsambung dengan latar elakang Bukit Paras dan pemandangan Bukit Brujul di ujung sana, menjadikan kedai kopi ini sangat menarik untuk menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi. Tersedia ruang ber AC maupun meja-meja di tempat terbuka untuk membuat suasana lebih santai dan menyegarkan.

Kopi Kebumen memiliki sejarah panjang yang dimulai pada masa kolonial Belanda sebagai daerah perkebunan strategis. Sempat mengalami pasang surut hingga nyaris punah, komoditas ini kini kembali bangkit dan terkenal dengan keunikan budidayanya di dataran rendah hingga pesisir pantai serta di perbukitan bagian utara kawansan Geopark Kebumen.

Jenis robusta sangat banyak ditemui di kebumen, misalnya Robusta Karanggayam, Robusta Karangsambung, Robusta Buayan, Robusta Sempor dan Robusta Sadang. Pada umumnya petani kopi di Kebumen menanam jenis kopi ini karena karakter kopi ini yang cukup kuat dan bisa tumbuh dimana saja, selain penerimaan masyarakat yang lebih umum terhadap jenis kopi ini. Secara harga jenis kopi ini relatif lebih murah dibanding jenis kopi lainnya.

Sedangkan Jenis Liberika dan Ekselsa yang ditanam di Buayan, Karanggayam dan Sadang cukup sulit diperoleh karena terbatasnya petani yang menanam kopi jenis ini. Kopi jenis ini pernah hampir habis ditebang petani karena dianggap kurang dikenal dan kurang diminati masyarakat. Namun demikian, pada lima tahun terakhir ini jenis kopi Liberika dan Ekselsa Kebumen sedang naik daun dan bahkan menjadi juara di ajang kopi internasional.

Saat ini dan kedepannya, kenis kopi liberika dan ekselsa kebumen ini diperkirakan akan semakin terkenal dan semakin menjadi primadona kopi kebumen.

  1. Kopi Arabika
    Rasa: Dikenal dengan rasa yang kompleks, seringkali memiliki catatan buahbuahan, bunga, cokelat, atau kacang-kacangan.
    Kualitas: Umumnya dianggap sebagai kopi dengan kualitas terbaik, memiliki tingkat keasaman yang seimbang dan body yang ringan hingga medium.
    Kandungan kafein: Lebih rendah dibandingkan robusta.
    Tumbuh di ketinggian yang lebih tinggi, di daerah tropis dengan suhu yang sejuk
    dan tanah yang subur.
  2. Kopi Robusta
    Rasa: Memiliki rasa yang lebih kuat, seringkali lebih pahit dan lebih tinggi
    kandungan kafeinnya dibandingkan Arabika.
    Kualitas: Umumnya digunakan untuk espresso dan campuran kopi karena dapat memberikan body yang lebih kuat.
    Kandungan kafein: Lebih tinggi dibandingkan Arabika. Dapat tumbuh di berbagai ketinggian, termasuk dataran rendah, dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit.
  3. Kopi Liberika
    Rasa: Memiliki rasa yang unik, seringkali dijelaskan sebagai rasa buah yang tajam dengan sedikit rasa manis dan asam.
    Pada umumnya biji kopi Liberika lebih besar dan tidak beraturan dibandingkan Arabika dan Robusta, namun di Kebumen masyarakat lebih mengenal biji kopi liberika yang sangat khas karena berukuran kecil-kecil.
    Tumbuh di daerah tropis banyak di Afrika Barat dan Tengah
  4. Kopi Excelsa
    Rasa: Sering dianggap sebagai varietas dari Liberika, namun memiliki rasa yang sedikit berbeda. Rasa Excelsa sering dikaitkan dengan buah-buahan seperti jeruk dan ceri, dengan sentuhan kacang yang lebih ringan. Bentuk biji mirip dengan Robusta, namun memiliki aroma yang lebih kaya.
    Di kebumen Ekselsa sangat khas dengan biji yang seragam dan berukuran kecilkecil.
    Tumbuh: Selain di jawa, ekselsa banyak ditemukan di Asia Tenggara, khususnya di Vietnam.

Sejarah penanaman kopi liberika dan ekselsa di Kebumen dimulai sebagai upaya konservasi lahan kritis pesisir dan dataran rendah pada akhir abad ke-19. Kopi jenis ini terbukti tangguh tumbuh di wilayah dengan ketinggian 0-20 mdpl, termasuk di atas batuan karst yang dekat dengan garis pantai.
Berikut adalah tonggak sejarah dan perkembangan kopi liberika dan ekselsa di Kebumen:

Abad Ke-19 (Masa Kolonial): Pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan varietas kopi liberika ke Nusantara, termasuk ke Jawa, sebagai alternatif pengganti arabika yang hancur akibat wabah penyakit karat daun.


Di awal abad ke-20, varietas ini sempat meredup sebelum ditemukan kembali jenis kerabatnya, yaitu ekselsa. Tahun 2009: Titik balik budidaya modern di Kebumen dimulai oleh pegiat lingkungan dan sociopreneur lokal, untuk menghijaukan lahan kritis di pesisir selatan Kebumen (seperti di Kecamatan Ambal) dan wilayah utara (Kecamatan Karanggayam dan Karangsambung).


Keunikan Lingkungan: Pohon kopi ini ditanam menggunakan sistem agroforestry (tumpang sari) di antara pepohonan kayu di dataran rendah atau langsung di atas batuan karst. Kondisi tanah dan iklim pesisir memberikan cita rasa khas pada kopi yang dihasilkan, dengan tingkat keasaman, body tebal, dan aroma wangi seperti buah nangka. Demikian pula kopi liberika dan ekselsa yang ditanam di perbukitan gersang di Karanggayam dan Karangsambung memberikan rasa khasnya tersendiri.


Sejarah kopi Robusta di Kebumen, Jawa Tengah, sangat unik karena tidak hanya tumbuh di pegunungan, tetapi juga dibudidayakan di lahan pesisir selatan dan kawasan karst. Perkembangan kopi di wilayah ini dibagi menjadi dua era utama:

Era Kopi Legendaris (1969): Pada tahun 1969, kopi robusta mulai menjadi bagian dari budaya masyarakat lokal dengan beredarnya Kopi Djempol, racikan khas yang dicampur vanila, jagung, dan cengkih.

Era Kopi Pesisir (2009 – 2015): Budidaya tanaman kopi langsung di daerah dataran rendah/pesisir (seperti di Kecamatan Ambal dan kawasan resapan Sindaro) dimulai sekitar tahun 2009 hingga 2015 oleh para sociopreneur dan petani lokal. Mereka berhasil memanfaatkan lahan tidur dan pekarangan dengan sistem agroforestry menggunakan bibit robusta dan jenis lainnya.

Di Kebumen, kopi robusta (serta varietas lain seperti arabika dan liberika) tumbuh subur di atas bebatuan karst atau tanah pesisir hanya beberapa meter dari bibir pantai. Keunikan lingkungan tanam ini menghasilkan cita rasa kopi yang sangat khas dengan aroma pekat yang kini sukses menembus pasar internasional